Ujian Terakhir: Labirin Ketakutan dan Gerbang Harapan
Suara desiran kipas angin di langit-langit ruang kelas 12 IPS 3 terasa lebih memekakkan telinga daripada biasanya. Di luar, terik matahari bulan Mei menyengat, namun di dalam, suasana terasa dingin, membeku oleh ketegangan yang menggantung. Ini bukan hari biasa. Ini adalah hari dimulainya Ujian Nasional, penentu nasib bagi kami, para siswa SMA yang sebentar lagi akan melepas seragam putih abu-abu.
Namaku Arif. Seperti kebanyakan teman-temanku, aku merasakan gejolak emosi yang campur aduk: sedikit rasa tidak percaya bahwa momen ini akhirnya tiba, secercah harapan akan masa depan yang cerah, namun didominasi oleh kecemasan yang mendalam. Ujian Nasional adalah monster yang telah menghantui mimpi-mimpi kami selama bertahun-tahun. Ia adalah rintangan terakhir, sebuah labirin yang harus kami jelajahi sebelum menemukan gerbang kebebasan.

Fase Persiapan: Perang Dingin Melawan Buku
Sejak semester genap dimulai, kehidupan kami berubah drastis. Kata "belajar" bukan lagi sekadar kegiatan, melainkan sebuah gaya hidup, sebuah obsesi. Perpustakaan sekolah menjadi rumah kedua, bimbingan belajar menjadi rutinitas wajib, dan tumpukan buku pelajaran seolah tumbuh menjadi gunung di meja belajar kami masing-masing. Malam-malam yang biasanya diisi dengan tawa dan obrolan ringan bersama teman-teman, kini berganti menjadi sunyi, ditemani aroma kopi instan dan kerlap-kerlip layar laptop yang memancarkan soal-soal latihan.
Aku selalu punya masalah dengan Matematika. Angka-angka dan rumus-rumus itu seolah menari-nari mengejekku, membentuk pola-pola yang tak pernah bisa kutangkap maknanya. Setiap kali aku mencoba memahami sebuah konsep, rasanya seperti mencoba menangkap air dengan tangan. Temanku, Budi, adalah kebalikanku. Dia jenius Matematika, selalu berhasil mendapatkan nilai sempurna. Ia sering dengan sabar mencoba menjelaskan padaku, tetapi terkadang, penjelasan Budi yang terlalu logis justru membuat kepalaku semakin pusing.
"Arif, kuncinya itu pemahaman konsep dasar," kata Budi suatu malam di perpustakaan, sambil menunjuk deretan angka di buku latihan. "Kalau dasarnya kuat, mau soalnya dibolak-balik kayak apa juga pasti ketemu jawabannya."
Aku hanya mengangguk lemas, padahal dalam hati aku merasa ingin menjerit. Konsep dasar? Aku bahkan kesulitan membedakan antara sinus dan kosinus tanpa melihat tabel!
Orang tuaku adalah sumber dukungan tak terbatas. Ibuku selalu menyiapkan makanan bergizi dan teh hangat saat aku belajar hingga larut malam. Ayahku sering datang ke kamarku, menanyakan progres belajarku, dan memberikan kata-kata penyemangat. "Jangan terlalu tegang, Nak. Yang penting sudah berusaha maksimal. Hasilnya serahkan pada Tuhan," nasihat ayahku suatu sore. Kata-kata itu menenangkan, namun tidak sepenuhnya menghilangkan beban di pundakku.
Mendekati hari H, intensitas belajar semakin gila. Kami mengikuti try out demi try out, menganalisis kesalahan, dan mencoba memprediksi soal yang akan keluar. Ada saat-saat di mana aku merasa sangat lelah, ingin menyerah saja. Otakku terasa seperti spons yang sudah terlalu penuh, tidak bisa menyerap informasi lagi. Tidurku pun tak tenang, seringkali terbangun dengan mimpi buruk tentang soal Matematika yang tak bisa kujawab.
Sita, temanku yang lain, juga terlihat sangat tertekan. Dia biasanya ceria dan santai, tapi belakangan ini, wajahnya selalu murung dan matanya tampak sembap. "Aku takut banget, Rif," bisiknya suatu hari. "Gimana kalau kita nggak lulus? Apa kata orang tua?"
Ketakutan Sita itu menular. Di saat-saat seperti itu, kami hanya bisa saling menguatkan, saling mengingatkan bahwa kami tidak sendiri dalam perjuangan ini.
Hari-H: Medan Perang yang Hening
Pagi ujian pertama tiba. Aku bangun sebelum azan Subuh. Aroma kopi buatan ibu sudah tercium dari dapur. Setelah sarapan dengan roti bakar dan teh manis, aku memeriksa ulang alat tulis dan kartu ujian. Jantungku berdebar kencang, seolah ingin melompat keluar dari rongga dadaku, setiap desah napas terasa berat dan dangkal.
Di sekolah, suasana terasa berbeda. Lorong-lorong yang biasanya ramai oleh celotehan kini dipenuhi bisikan-bisikan terakhir dan wajah-wajah tegang. Ada yang sibuk membaca ringkasan, ada yang berdoa, ada pula yang hanya berdiri diam dengan pandangan kosong. Budi tampak tenang, ia bahkan sempat tersenyum padaku. Sita masih terlihat pucat, namun ia mencoba menarik napas dalam-dalam.
Ketika bel berbunyi, kami berbaris menuju ruang ujian masing-masing. Langkah kami terasa berat, seolah membawa beban ribuan kilogram di punggung. Ruang ujian terasa dingin dan asing. Meja dan kursi diatur berjarak, memisahkan kami dari teman-teman, menegaskan bahwa ini adalah pertarungan pribadi. Pengawas ujian masuk, memberikan arahan, dan kemudian membagikan lembar soal.
Ujian Bahasa Indonesia adalah yang pertama. Aku merasa cukup percaya diri dengan mata pelajaran ini. Aku membaca setiap soal dengan teliti, mencoba memahami maksudnya. Waktu berjalan cepat, namun aku berhasil menyelesaikan semua soal tanpa terlalu banyak kesulitan. Rasa lega membanjiriku, memberikan sedikit suntikan semangat.
Lalu tibalah giliran Matematika. Lembar soal berwarna hijau itu terasa dingin di tanganku. Jantungku kembali berdegup kencang. Aku menarik napas dalam-dalam, mencoba mengingat semua rumus dan konsep yang sudah kupelajari. Mataku menyapu barisan soal. Soal nomor satu… masih bisa. Nomor dua… agak rumit, tapi masih ada ide. Nomor tiga… oh tidak, ini materi yang paling aku benci!
Keringat mulai membasahi telapak tanganku. Pikiranku kalut. Aku mencoba tenang, mengingat nasihat Budi tentang pemahaman konsep dasar. Aku mencoba membaca soal itu berulang kali, menggambar sketsa, mencoba memecahnya menjadi bagian-bagian yang lebih kecil. Ada beberapa soal yang benar-benar membuatku buntu, namun aku tidak menyerah. Aku mencoba mengerjakannya sebisaku, mengisi setiap jawaban dengan keyakinan yang kupaksakan. Aku teringat pada semua malam begadang, semua les tambahan, semua dukungan orang tua dan teman-teman. Aku tidak boleh mengecewakan mereka, dan yang terpenting, aku tidak boleh mengecewakan diriku sendiri.
Waktu terasa sangat cepat. Pengawas mengingatkan sisa waktu. Aku mempercepat gerak tanganku, mengisi bulatan-bulatan di lembar jawaban. Akhirnya, dengan napas tersengal, aku meletakkan pensilku saat pengawas mengumumkan waktu habis. Ada rasa lega yang luar biasa, bercampur dengan keraguan. Aku tidak tahu apakah jawabanku benar atau tidak, tapi setidaknya, aku sudah melakukan yang terbaik.
Setelah ujian Matematika, mata pelajaran lain terasa lebih ringan. Ujian Bahasa Inggris, Fisika, Kimia, Biologi, Sejarah, Geografi, Ekonomi, Sosiologi—semuanya kulalui dengan perasaan yang sama: campuran kelegaan karena telah melewati satu pos pemeriksaan, dan kecemasan akan pos berikutnya. Setiap hari ujian adalah maraton emosional. Setelah keluar dari ruang ujian, kami akan langsung berkumpul, membahas soal, mencocokkan jawaban, yang seringkali justru menambah kecemasan.
"Gila, nomor 15 Matematika itu harusnya B, bukan C!" teriak salah satu teman.
"Hah? Serius? Aku C!" sahut yang lain, wajahnya langsung pias.
Aku memilih untuk tidak terlalu terlibat dalam diskusi itu. Apa pun yang sudah kukerjakan, sudah selesai. Sekarang tinggal menunggu.
Fase Menanti: Limbo Emosional
Minggu-minggu setelah ujian adalah fase paling menyiksa. Kami menyebutnya "limbo emosional." Ujian sudah berakhir, beban belajar terangkat, namun beban menunggu hasil jauh lebih berat. Setiap hari terasa seperti menunggu hukuman mati. Kami mencoba menyibukkan diri dengan berbagai kegiatan: berkumpul, bermain game, bahkan sekadar tidur. Tapi bayang-bayang Ujian Nasional selalu ada di sudut pikiran.
Orang tuaku sesekali menanyakan perasaanku, dan aku hanya bisa menjawab dengan senyuman paksa. Budi tampak lebih santai, ia yakin akan hasilnya. Sita justru semakin sering melamun, ia bahkan tidak mau ikut kumpul-kumpul karena terlalu cemas.
Desas-desus tentang tanggal pengumuman hasil beredar cepat. Setiap kali ada pengumuman dari sekolah, jantungku akan berdegup kencang. Akhirnya, tanggal itu ditetapkan. Semua hasil akan diumumkan secara online, pada pukul 14.00 WIB.
Puncak Ketegangan: Detik-detik Pengumuman
Hari pengumuman tiba. Pagi itu, aku tidak bisa makan. Perutku mulas, kepalaku sedikit pusing. Aku mencoba membaca buku, menonton TV, tapi tidak ada yang bisa mengalihkan perhatianku. Ponselku terus bergetar, pesan masuk dari grup chat kelas. Semua teman-teman merasakan hal yang sama.
"Gila, aku nggak bisa napas!"
"Ada yang mau buka bareng?"
"Tangan gue dingin banget."
Pukul 13.55. Aku duduk di depan laptopku, jemariku gemetar di atas keyboard. Ibu dan ayahku duduk di belakangku, memberikan dukungan moral. Budi menelepon, ia juga sedang menunggu. Sita mengirim pesan singkat, "Semoga kita lulus semua, Rif."
Pukul 14.00. Jantungku serasa berhenti. Aku membuka situs web sekolah. Halaman itu memuat sebuah tautan. Dengan tangan gemetar, aku mengklik tautan tersebut, memasukkan nomor peserta ujianku, dan menekan tombol "Lihat Hasil."
Layar memuat selama beberapa detik yang terasa seperti keabadian. Kemudian, sebuah halaman baru muncul. Mataku langsung tertuju pada satu kata besar yang tercetak tebal: LULUS.
Napas yang sejak tadi kutahan akhirnya keluar. Air mata yang tidak kusadari sudah menggenang di pelupil mata tiba-tiba mengalir. Aku lulus! Aku melihat nilai-nilai per mata pelajaran. Bahasa Indonesia: 92. Bahasa Inggris: 88. Dan Matematika… 78! Aku bahkan mendapatkan nilai yang jauh lebih baik dari yang kubayangkan untuk Matematika!
Aku berteriak kegirangan. Ibu dan ayahku langsung memelukku erat. Tangisan bahagia memenuhi ruangan. Aku segera menelepon Budi. "Bud! Lulus! Aku lulus!" teriakku di telepon. Budi tertawa lega. "Aku juga, Rif! Selamat!"
Kemudian aku menelepon Sita. Suara Sita terdengar gemetar saat menjawab, "Gimana, Rif?"
"LULUS, Sit! Kita semua lulus!"
Aku bisa mendengar suara Sita terisak di ujung telepon, "Alhamdulillah… Alhamdulillah…"
Refleksi: Gerbang yang Terbuka dan Pelajaran Berharga
Malam itu, kami merayakan kelulusan bersama teman-teman. Tawa dan kelegaan memenuhi udara. Kami saling berpelukan, saling mengucapkan selamat, dan berbagi cerita tentang perjuangan masing-masing. Di antara tawa dan canda, ada kesadaran yang mendalam: Ujian Nasional bukan hanya tentang angka-angka di atas kertas. Ini adalah tentang perjalanan.
Perjalanan yang menguji ketahanan mental dan fisik. Perjalanan yang mengajarkan kami tentang arti kerja keras, konsistensi, dan pantang menyerah. Perjalanan yang memperlihatkan pentingnya dukungan dari orang tua, guru, dan terutama, teman-teman.
Aku menyadari bahwa ketakutanku pada Matematika, pada akhirnya, adalah motivator terbesarku. Itu mendorongku untuk belajar lebih keras, mencari bantuan, dan tidak pernah menyerah. Nilai 78 itu, bagiku, lebih berharga daripada nilai sempurna di mata pelajaran lain, karena itu adalah bukti nyata dari sebuah perjuangan yang berhasil ditaklukkan.
Ujian Nasional mungkin terasa seperti labirin yang menakutkan, namun setelah berhasil melewatinya, kami menemukan bahwa itu adalah gerbang. Gerbang menuju fase kehidupan yang baru, dengan tantangan yang berbeda, namun juga dengan harapan dan kesempatan yang tak terbatas. Kami telah melewati satu rintangan besar, dan itu memberikan kami kepercayaan diri untuk menghadapi rintangan-rintangan lain di masa depan.
Kini, seragam putih abu-abu kami akan segera digantung. Namun, kenangan akan perjuangan, tawa, air mata, dan kelegaan di masa ujian ini akan selalu menjadi bagian tak terpisahkan dari cerita kami, sebuah pelajaran berharga tentang ketekunan dan keberanian untuk melangkah maju.
